5 Mahasiswa UPI dan Kucing Kampus: Ketika Kepedulian Tumbuh dari Hal Sederhana
BANDUNG, PORTAL KUCING — Di tengah aktivitas perkuliahan yang berjalan setiap hari, ada kehidupan lain yang ikut tumbuh dan bergerak di sekitar lingkungan kampus. Mereka tidak datang ke ruang kelas, tidak mengikuti jadwal kuliah, dan tentu saja tidak memiliki kartu tanda mahasiswa.
Mereka adalah kucing-kucing yang hidup di sekitar lingkungan kampus.
![]() |
| 5 Mahasiswa UPI Peduli kesejahteraan kucing liar di sekitar kampus |
Sebagian mungkin sudah sangat akrab dengan mahasiswa. Sebagian lainnya hanya muncul ketika mencium aroma makanan. Namun keberadaan mereka menjadi bagian kecil dari kehidupan sehari-hari yang sering kali luput dari perhatian.
Hal tersebut menjadi pengalaman yang ditemui Portal Kucing ketika bertemu dengan lima mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung.
Kelima mahasiswa tersebut adalah Dian dari Tangerang Selatan, Suci dan Salwa dari Padang, Alisya dari Jakarta, serta Audi dari Ciwidey.
Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda. Tetapi pada hari itu, mereka dipertemukan oleh satu hal sederhana: kepedulian terhadap kucing-kucing yang hidup di sekitar mereka.
Berawal dari Langkah Kecil
Pertemuan berlangsung di sekitar kawasan kampus UPI. Dari sebuah tempat berkumpul, perjalanan kemudian berlanjut dengan menyusuri area sekitar untuk mencari kucing yang biasa berada di lingkungan tersebut.
Tidak membutuhkan waktu lama.
Satu per satu kucing mulai terlihat.
Ada Oyen, kucing belang, kucing Calico, Mujair, dan beberapa kucing lainnya. Beberapa di antaranya terlihat cukup terbiasa dengan kehadiran manusia.
Momen tersebut kemudian berubah menjadi interaksi sederhana.
Makanan diberikan. Kucing-kucing mulai mendekat. Para mahasiswa duduk, memperhatikan, dan berinteraksi dengan mereka.
Tidak ada suasana yang dibuat-buat.
Justru kesederhanaan itulah yang membuat pengalaman tersebut terasa dekat.
Bagi sebagian orang, memberi makan kucing mungkin terlihat sebagai aktivitas kecil. Namun ketika dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab, kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan hewan yang berada di sekitar kita.
Lima Mahasiswa, Lima Cerita
Dian, Suci, Salwa, Alisya, dan Audi tidak memiliki cerita yang sepenuhnya sama mengenai kepedulian mereka terhadap kucing.
Masing-masing memiliki pengalaman dan cara pandang sendiri.
Ada yang melihat kucing sebagai makhluk hidup yang membutuhkan perhatian. Ada pula yang merasa bahwa keberadaan hewan di sekitar manusia seharusnya tidak membuat kita kehilangan rasa peduli.
Perbedaan pengalaman tersebut justru memperlihatkan bahwa kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, semuanya dimulai dari tindakan sederhana: berhenti sebentar, melihat sekitar, kemudian menyadari bahwa ada makhluk lain yang juga hidup berdampingan dengan kita.
Bagi Portal Kucing, bagian ini menjadi salah satu hal menarik dari pertemuan tersebut.
Bukan tentang seberapa banyak makanan yang diberikan.
Melainkan tentang mengapa seseorang memilih untuk peduli.
Street Feeding Bukan Hanya Soal Memberi Makan
Memberi makan kucing jalanan atau kucing yang hidup di lingkungan publik juga membutuhkan tanggung jawab.
![]() |
| Momen ketika kucing di sekitar kampus UPI menghampiri ke-5 mahasiswa yang sedang street feeding |
Makanan memang penting, tetapi kebersihan lingkungan tidak boleh dilupakan.
Salah satu mahasiswa yang ikut dalam kegiatan tersebut, Alisya, menekankan pentingnya menjaga kebersihan setelah melakukan street feeding.
Sisa makanan dan kemasan tidak seharusnya dibiarkan begitu saja.
Hal sederhana seperti membawa kembali sampah dan membuangnya pada tempat yang sesuai merupakan bagian dari kepedulian itu sendiri.
Sebab, memberikan makanan kepada hewan tetapi meninggalkan sampah di lingkungan pada akhirnya dapat menimbulkan persoalan lain.
Kepedulian terhadap kucing semestinya berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka hidup.
Inilah yang sering kali menjadi bagian penting dalam praktik street feeding yang bertanggung jawab.
Ketika Manusia dan Hewan Hidup Berdampingan
Kucing-kucing di lingkungan kampus bukan sekadar objek untuk diberi makan.
Mereka adalah bagian dari kehidupan yang berada di sekitar manusia.
Interaksi yang terjadi hari itu memperlihatkan bagaimana hubungan sederhana antara manusia dan hewan dapat menghadirkan pengalaman yang bermakna.
Ada mahasiswa yang duduk sambil memperhatikan tingkah kucing.
Ada yang memberikan makanan.
Ada pula yang mencoba mendekat dan membangun kepercayaan dengan cara yang lebih tenang.
Tidak semua kucing langsung mau disentuh. Tidak semua kucing memiliki karakter yang sama.
Dan justru di situlah pentingnya memahami bahwa kepedulian terhadap hewan bukan berarti memaksakan kehendak manusia kepada mereka.
Memberi ruang, menghargai batas, menjaga kebersihan, serta memahami kebutuhan hewan juga merupakan bagian dari bentuk kepedulian.
Lebih dari Sekadar Makanan
Bagi Portal Kucing, pertemuan dengan kelima mahasiswa tersebut meninggalkan satu pesan sederhana.
Kepedulian tidak harus selalu hadir dalam bentuk tindakan besar.
Memberi makan bisa menjadi awal.
Mengelus ketika kucing merasa nyaman bisa menjadi bentuk interaksi.
Melihat kondisi lingkungan bisa menumbuhkan kesadaran.
Dan memilih untuk tidak mengabaikan kehidupan di sekitar kita adalah langkah kecil lainnya.
Pada akhirnya, kepedulian bukan hanya tentang siapa yang mampu memberikan sesuatu kepada kita.
Kepedulian juga bisa diberikan kepada makhluk lain yang tidak dapat membalasnya dengan cara yang sama.
Di tengah kesibukan manusia, mungkin kita hanya perlu berhenti sebentar untuk menyadari bahwa kehidupan lain ternyata berjalan begitu dekat dengan kita.
Menjelang World Rabies Day
Pertemuan ini juga berlangsung hanya beberapa hari menjelang World Rabies Day 2026 yang diperingati setiap 28 September.
![]() |
| Portal Kucing bersama lima mahasiswa UPI setelah street feeding kucing liar di sekitar kampus |
Tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “Stronger Together”, yang menekankan pentingnya kerja bersama antara masyarakat, tenaga kesehatan, profesional veteriner, pemerintah, dan berbagai pihak dalam upaya pencegahan serta eliminasi rabies. WHO juga menempatkan pendekatan One Health sebagai bagian penting karena kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan.
Namun, kegiatan sederhana bersama kucing-kucing kampus ini bukanlah kampanye rabies.
Momentum tersebut hanya menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap hewan juga membutuhkan pengetahuan dan tanggung jawab.
Memberi makan saja tidak cukup.
Ada banyak hal lain yang perlu dipahami ketika manusia hidup berdampingan dengan hewan, termasuk kesehatan, kebersihan lingkungan, pengendalian populasi, serta bagaimana memperlakukan hewan secara bertanggung jawab.
Dari Kucing, Belajar Jadi Manusia
Pada akhirnya, perjalanan bersama lima mahasiswa UPI tersebut kembali kepada satu pertanyaan sederhana:
Apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari kucing?
Mungkin jawabannya tidak selalu rumit.
Tentang perhatian.
Tentang kesabaran.
Tentang berbagi.
Dan tentang bagaimana kita memperlakukan makhluk hidup yang tidak selalu bisa berbicara kepada kita dengan bahasa yang sama.
Lima mahasiswa tersebut datang dari tempat yang berbeda. Mereka memiliki cerita dan pengalaman yang berbeda pula.
Tetapi hari itu mereka menunjukkan satu hal yang sama: bahwa kepedulian bisa dimulai dari lingkungan terdekat.
Dari seekor kucing yang kita temui di perjalanan.
Dari makanan yang kita sisihkan.
Dari tangan yang mau memberi perhatian.
Dan dari kesadaran untuk tetap menjaga tempat di mana manusia dan hewan hidup berdampingan.
Karena mungkin, seperti yang selalu menjadi semangat Portal Kucing:
“Dari Kucing, Belajar Jadi Manusia.”



Posting Komentar